Perjalanan Putri Ise Mencari Negeri Harapan

Dikishkan, ada seorang putri bernama Putri Ise yang sedang melakukan perjalanan panjang ke Negeri Harapan. Bersama kedua orang tua, pengawal, dan rakyatnya Sang Putri menapaki jalan panjang yang kadang terjal berliku, kadang lapang, dan landai. Sang Putri dan rombongannya melakukan perjalanan ini, karena negerinya hilang akibat pertempuran melawan sekawanan tukang sihir jahat yang menyerang negerinya.

Para penyihir durjana tersebut memang sudah takluk oleh perlawanan rakyat yang bahu membahu menyatukan kekuatan, namun sebagai gantinya seluruh kerajaannya terkena cahaya sihir yang membuat tidak ada bangunan yang dapat didirikan di wilayah itu. Sekecil apa pun usaha mendirikan rumah di situ, bangunan itu akan segera runtuh dengan sendirinya semalam setelah berdiri.

Agar dapat kembali hidup nyaman dan bahagia seperti sebelumnya, Raja memutuskan untuk berpindah ke wilayah lain. Dalam doanya sebelum membuat keputusan, Baginda mendapat petunjuk bahwa dia harus memimpin rakyatnya berjalan menuju sebuah kawasan yang tentram dan damai yang bernama Negeri Harapan.

Maka berduyun-duyunlah seluruh rakyat menuju negeri yang dijanjikan itu. Raja, dibantu Ratu dan para menteri, memimpin langsung perpindahan tersebut. Putri Ise sendiri membantu Ayahnya menemukan Negeri Harapan. Sesuai dengan petunjuk gaib, perasaan Sang Putrilah yang harus diturut saat rombongan menemui jalan bercabang yang membingungkan. Perasan Sang Putri itu menjadi semacam kunci pembuka wilayah-wilayah gaib yang dilewati rombongan.

Sayangnya, pada hari ketiga, Putri Ise terserang demam. Hal ini disebabkan karena Putri Ise tidak terbiasa melakukan perjalanan jauh dan menderita kelelahan karenanya. Sebelumnya, perjalanan terjauh yang pernah Putri Ise tempuh adalah perjalanan menuju Taman Ujung yakni sebuah taman bunga dan buah milik kerajaan yang berada di tepi hutan di ujung kerajaan. Dari istana, perjalanan menuju Taman Ujung hanya memerlukan satu jam dengan kereta kuda. Sedangkan saat ini, perjalanan sudah memakan waktu tiga hari, namun negeri yang dituju belum juga terlihat.

Ibunda Ratu pun meminta Putri Ise untuk segera minum obat agar sehat dan bugar kembali, namun Putri Ise menolak permintaan ibunya dan menunjukkan bahwa dia masih kuat. Namun Ibunda Ratu yang sudah kenyang pengalaman hidup, tidak begitu saja percaya ucapan Putri Ise itu. Ibunda Ratu tahu bahwa putrinya sangat sulit minum obat, karena semua obat dirasanya pahit.

Melihat Putri Ise bersikukuh bahwa dirinya baik-baik saja, Ibunda Ratu membiarkan saja putri kesayangannya itu pada pendiriannya. Walau begitu, diam-diam Ibunda Ratu memerintahkan para dayang untuk selalu berjaga-jaga dan bersiap terhadap segala kemungkinan yang dapat terjadi pada Putri Ise.

Beberapa jam berselang, ketika rombongan tiba di sebuah padang, udara dingin berembus kencang. Segera raja memerintahkan untuk berhenti dan membangun tenda. Saat orang-orang sibuk mendirikan tenda-tenda dan menata tempat peristirahatannya, Putri Ise terduduk lemah di atas seonggok gundukan padas. Suhu tubuhnya meninggi, bahkan wajahnya pun semakin pucat.

Ibunda Ratu pun meminta Putri Ise untuk segera meminum obat, namun lagi-lagi Putri Ise menolak dan terus mengelak bahwa dia tidak apa-apa. Namun Ibunda Ratu tahu bahwa Putri Ise menolak lantaran obatnya pahit, tapi Putri Ise menggeleng dan mengatakan bahwa dia tidak takut dengan rasa pahit obat. Tapi Ibunda Ratu tahu bahwa itu hanya menutupi perasaan yang sesungguhnya.

Ibunda Ratu kali ini berusaha menjelaskan dengan lembut, bahwa obat itu sangat penting baginya. Kali ini ucapan lembut Ibunda Ratu benar-benar membuat Putri Ise tidak dapat mengelak lagi. Ia langsung meminum dua jenis obat yang disodorkan oleh dayang kepadanya. Begitu masuk ke dalam mulutnya, Putri Ise mendorong obat tersebut dengan segelas besar air putih.

Ia membayangkan kini obat-obat itu seperti dua pasangan kekasih yang tengah berlayar di sungai-sungai yang terdapat di dalam dirinya. Di sepanjang pelayaran, pasangan kekasih tersebut melambai-lambaikan tangan sembari menebar senyum manis kepada siapa saja. Tiga jam setelah meminum obat, kondisi tubuh Putri Ise berangsur pulih. Tenaganya pun bugar kembali. Esok, pastilah dia sangat siap untuk melanjutkan kembali perjalanan menuju Negeri Harapan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *